PELABUHAN Pemerintah Diminta Tak Ubah Pola Ker


Jumat, 29 Januari 2010

JAKARTA (Suara Karya): Penambahan jam kerja pelabuhan hingga 24 jam tidak menjamin peningkatan pelayanan jika operator terminal tidak dilibatkan sebagai mitra bisnis. Pola kerja yang ada selama ini sudah lebih baik dan berpengaruh langsung terhadap kecepatan proses bongkar-muat di pelabuhan.
Ketua Tim Evaluasi Kinerja Pelabuhan Hyrman Soemadirdja menyebutkan, peningkatan kinerja pelayanan tidak berarti harus mengubah pola kerja. Apalagi setiap pelabuhan di Indonesia memiliki karakteristik masing-masing. Berdasarkan kajian tim evaluasi menunjukkan, kinerja Pelabuhan Tanjung Priok, khususnya dalam kecepatan bongkar-muat barang serta pengaturan lalu-lintas kapal, masih lebih baik dibanding pelabuhan lainnya. Sebut saja Pelabuhan Tanjung Perak (Surabaya) dan Pelabuhan Belawan (Medan).
Evaluasi dilakukan selama 6 bulan di Pelabuhan Tanjung Priok, termasuk JICT/TPK Koja serta Tanjung Perak Surabaya, termasuk Terminal Petikemas Surabaya (TPS) dan dermaga Berlian Jasa Terminal (BJTI) serta dermaga Nilam. Selain itu Pelabuhan Belawan, termasuk Belawan International Container Terminal (BICT). Metodologi evaluasi dilakukan dengan mewawancarai pelaku usaha di pelabuhan.
Menurutnya, untuk layanan kapal, masa tunggu di Pelabuhan Priok Jakarta lebih pendek atau hanya 2 jam dibanding pelabuhan lain yang bisa mencapai 4 jam. Sementara di Tanjung Perak Surabaya dan Belawan Medan membutuhkan waktu paling cepat 3 hari. Kecuali di TPS Surabaya yang masa tunggunya lebih singkat. Akibatnya, denda yang ditanggung pemilik barang (deumurage) di pelabuhan masih tinggi.
Menyangkut aspek kecepatan bongkar-muat barang, yang sudah mencapai target baru di JICT/TPK Koja (Tanjung Priok) serta TPS (Tanjung Perak) yang sudah didukung peralatan dan fasilitas memadai. Jadi bila dikaitkan dengan rencana pemerintah untuk membuka pelayanan 24 jam (7 hari kerja) di pelabuhan, hanya Pelabuhan Tanjung Priok yang dinilai paling siap, baik menyangkut infrastruktur dan fasilitas. Sedangkan Tanjung Perak dan Belawan belum masuk kategori baik.
Demikian juga terkait produktivitas proses bongkar-muat peti kemas. Sepanjang 2009, Pelabuhan Tanjung Priok mencapai volume 3,8 juta teus (twenty equivalent units), lebih tinggi dibanding Tanjung Perak Surabaya 1,97 juta teus serta Belawan Medan dan Makassar yang kurang dari 1 juta teus.
Terkait otoritas pelabuhan (OP) yang akan mengambil alih seluruh kegiatan kepelabuhanan, para pelaku bisnis berharap tiudak terlalu mengubah pola kerja yang selama ini sudah baik. (Syamsuri S)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: